menjadi peternak









  Peternak

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk merekadan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”(Al-hajj ayat  28)
Beternak adalah salah satu jalan rezeki yang diberikan allah swt kepada hambanya, dengan beternak kita akan mampu meraih kesuksesan dunia dan akhirat.Banyak orang sukses dan kaya memulai usaha dengan berternak, hal ini sudah kita ketahui dijaman rasulullah saw, banyak sahabat bahkan nabi sendiri pernah sebagai pengembara domba milik seorang saudagar yang kaya raya, selain itu juga kita kenal seorang sahabat  saklabah yang mempunyai harta melimpah hanya berawal dari 2 ekor kambing yang diberikan kepadanya, namun akhirnya ia kufur kepada allah swt karena keangkuhannya dan kesombongannya, disini kita tidak akan membahas masalah keagamaan saklabah karena yang perlu kita perhatikan adalah cara beliau menjadi saudagar kaya.
Berbicara tentang ternak, kita jangan langsung berpikir untuk beternak dalam jumlah yang sangat besar, seperti kambing, sapi, lembu, kerbau dan sebagainya. Akan tetapi kita bisa memulainya dari hal yang terkecil seperti beternak ayam 2,4,6,8 ekor saja sesuai dengan kesangguapan yang anda miliki.
Dalam memulai usaha beternak anda jangan hanya sekedar memlihara saja seperti kebanyakan orang pada umumnya, akan tetapi ikutilah cara –cara mereka yang sukses dalam menjalankan usaha ternaknya.

 

Kisah inspiratif Peternak Ayam

Bisnis ayam kampung bisa membawa rezeki berlimpah di ibu kota. Itulah yang dilakukan Bambang Krista, pemilik Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat. Peternakan ayam kampung milik Bambang mampu memasok 5.000 ekor dan 10.000 butir telur ayam kampung per pekan.
Banyak yang berbisnis ayam kampung di negeri ini. Tapi siapa sangka, bisnis ayam kampung bisa menjadi bisnis primadona di perkotaan. Bambang Krista lewat Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat, membuktikan, bisnis ayam kampungnya membuat dia terkenal sebagai pemasok ayam kampung dan telur di Jakarta.
Bambang sukses membangun rantai bisnis ayam kampung itu di Jabodetabek. Bambang tidak hanya menjual ayam kampung siap potong saja, dia juga menjual telur ayam kampung dan bibit ayam kampung atau daily old chicken (DOC).
Dari peternakan ayam kampung miliknya seluas enam hektare (Ha) di Bekasi, Bambang bisa menghasilkan 3.000 sampai 5.000 ekor ayam kampung siap potong per pekan. Selain itu dia juga menyuplai 10.000 butir telur ayam kampung per pekan untuk memenuhi kebutuhan di pasar-pasar di kawasan Jabodetabek saja.
Belum cukup hanya itu, Bambang juga menjual DOC ayam kampung sebanyak 7.000 sampai 10.000 ekor per pekan. “Omzet saya bisa lebih dari Rp 200 juta,” kata Bambang.
Ayam kampung dan telur ayam kampung dari peternakan Bambang tidak hanya masuk pasar tradisional. Bambang juga memasok ayam kampung itu ke pasar modern. Sementara permintaan DOC ayam kampung berdatangan dari peternak ayam kampung di seputaran Jabodetabek dan beberapa peternak di Jawa Barat.
Kesuksesan pria asli Solo ini membangun bisnis ayam kampung tidak datang begitu saja. Bambang bekerja keras agar bisa mengangkat pamor bisnis peternakan ayam kampung tersebut. Salah satu kiatnya adalah, Bambang menyiapkan dengan baik sebelum terjun di bisnis ini. Lihat saja, sebelum membuka peternakan, Bambang lebih dulu melakukan riset untuk mencari bibit ayam kampung yang unggul. Dia meneliti dengan baik, mulai dari mencari induk unggul hingga telur yang layak ditetaskan. Karena tekun, Bambang sukses menemukan DOC ayam kampung unggul yang diberi nama DOC ayam kampung super. Keunggulan DOC ayam kampung super itu terletak pada usia panen yang lebih cepat dibanding DOC ayam kampung biasa. “Saya butuh enam kali perkawinan silang untuk menemukan DOC ayam kampung super,” ujar Sarjana Peternakan dari Universitas Diponegoro itu.
Menurut Bambang, membesarkan DOC ayam kampung biasa butuh waktu empat sampai enam bulan. “Berbeda dengan DOC ayam kampung super yang bisa panen setelah usia dua bulan,” terangnya. Setelah mengetahui kelebihan dari DOC ayam kampung super itu, barulah Bambang memberanikan diri membuka peternakan ayam. Dan tentu saja, Bambang juga melakukan pembibitan DOC ayam kampung super untuk dijual kepada para peternak. Karena produktif, DOC ayam kampung super itu digemari peternak ayam kampung. Alhasil, nama Bambang Krista menjadi populer di mata peternak. Banyak peternak ayam kampung beralih membeli DOC milik Bambang karena lebih menguntungkan dari sisi produksi. Apalagi harga jual ayam kampung lebih tinggi dibanding dengan ayam buras. Sebagai perbandingan, harga ayam buras di pasaran Rp 16.000 per kilogram (kg). Sementara, harga jual ayam kampung mencapai Rp 25.000 per kg.
Tapi, kesuksesan Bambang berbisnis tidak membuat dia lupa lingkungan sekitarnya. Bambang kini memiliki 20 peternak binaan di Jonggol, Bogor. “Tadinya warga itu menggantungkan hidup di sektor perdagangan saja,” terang Bambang. Peternak binaan Bambang itu mendapat pasokan DOC dari Bambang. Setelah dibesarkan peternak, Bambang membantu mereka untuk memasarkannya. Saat ini, para peternak di Jonggol itu bisa menghasilkan 5.000 ekor ayam kampung setiap panen (dua bulan). Selain memiliki binaan, Bambang juga sering bertandang ke berbagai kota untuk memberikan pelatihan beternak ayam kampung kepada sesama peternak. “Motivasi saya adalah ingin berbagi ilmu,” katanya.
Setelah gagal menjadi peternak ayam broiler, Bambang mulai melirik ayam kampung. Namun ia memilih tak menjual ayam namun menjual telur ayam kampung. Dengan kemasan yang baik, Bambang berhasil menjual telur 50% lebih tinggi dari telur lainnya. Setelah berdagang telur sukses, Bambang mulai melirik usaha breeding farm.
Bambang Krista adalah contoh peternak sekaligus pebisnis yang sukses menggabungkan teori dan praktik. Maklum, pria berusia 48 tahun ini merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Bahkan ketika masih kuliah ia kerap dipercaya sebagai asisten dosen untuk beberapa mata kuliah.
Namun, ketika kuliah dulu, Bambang tak pernah bercita-cita menjadi peternak ayam. Bahkan, saat kuliah dia malah tak mengambil mata kuliah tentang unggas. “Saya dulu bercita-cita ingin punya peternakan sapi, seperti di Eropa,” ujar Bambang
Walaupun awalnya tidak menyukai ayam, selepas kuliah pada 1989 ia terpaksa mulai merintis karier sebagai tenaga ahli di sebuah peternakan ayam broiler di Kramat Jati, Jakarta Timur. Dari situlah Bambang mulai tertarik dengan ayam. Dia melihat perputaran uang dalam bisnis ayam ternyata luar biasa besar.
Bayangkan, dalam waktu 25 hari hingga 40 sejak ayam berumur sehari atau day old chicken (DOC) ayam sudah bisa dipanen dan untung bisa diraih. Selain itu, ibaratnya, pembeli langsung datang ke kandang ayam alias tak perlu memasarkan.
Sayangnya,  peternakan ayam broiler itu terpaksa tutup kandang alias bangkrut saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998 silam. Ketika itu, banyak peternak ayam di negeri ini gulung tikar lantaran tak mampu membeli pakan yang harganya melenting tinggi sekali. Sementara itu, “Harga ayam malah melorot menyesuaikan dengan daya beli masyarakat yang turun akibat krisis,” terang Bambang. Setelah   peternakan ayam broiler itu gulung tikar dan Bambang kehilangan pekerjaan, ia langsung banting setir menjadi pedagang sembako untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun jadi pedagang tak lama karena pada 1999, Bambang mendapat tawaran dari seorang temannya untuk bekerja di usaha pembibitan ternak atau breeding farm.
Meski sudah kembali bekerja, Bambang belum lupa dengan rezeki dari ayam broiler. Karena itu, dia masih beternak ayam ini. Bahkan, jumlah ayam broilernya itu pernah mencapai 100.000 ekor. Sayangnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Lagi-lagi terpaan krisis menghantam peternak. Pada 2003, krisis melanda Asia, peternakan Bambang pun kembali runtuh. Dia rugi besar. Sampai-sampai hartanya ludes untuk menutupi kerugian.

Setelah gagal yang kedua ini, Bambang sadar, beternak ayam broiler berisiko tinggi. Ia mulai berpikir untuk beternak ayam kampung. Masalahnya, ketika itu pamor ayam kampung kalah dengan ayam bukan ras (buras) ini.
Namun Bambang tetap nekat. Menurutnya, bagaimanapun ayam kampung lebih tahan penyakit dan biaya perawatannya murah karena tak perlu dengan sistem intensif seperti beternak ayam broiler. Menginjak 2008, Bambang mulai mantap dengan pilihannya beternak ayam kampung untuk diambil telurnya. “Awalnya sulit untuk mempromosikan telur ayam kampung tersebut,” ujar Bambang.
Agar telur laku, Bambang pun membuat kemasan serapi mungkin. Kemasan ini penting agar telur-telur itu bisa dijual di supermarket. Cara ini ternyata jitu, tak sampai setahun, telur ayam kampung kemasan Bambang mulai laris manis karena ia berhasil untuk menjaga kualitas telurnya. Selain itu, keuntungan Bambang juga 50% lebih besar dibanding penjual telur lainnya. “Dengan pengemasan yang lebih baik, saya bisa untung lebih banyak,” ujar Bambang
Sukses di telur, Bambang mulai mengembangkan usaha dengan menjadi pembibit ayam kampung. Memang risiko di bisnis pembibitan lebih besar dibandingkan dengan menjadi peternak. Namun, Bambang juga tahu persis tak banyak pebisnis yang bermain di pembibitan ayam kampung. “Karena itu saya yakin bibit saya pasti laku,” ujarnya.
Dengan menjadi penyuplai bibit, ia tidak perlu bersaing ketat dengan peternak lainnya, namun justru membantu usaha mereka. “Bidang breeding farm masih sangat dibutuhkan peternak,” ujar Bambang. Setelah mampu membuktikan sebagai peternak ayam kampung yang sukses, Bambang pun sering diundang untuk memberikan pelatihan peternakan ayam kampung yang benar. Selain itu, karena banyaknya permintaan, di sela-sela waktu senggangnya Bambang juga tetap rajin menulis buku tentang peternakan ayam kampung.
Prospek bisnis ayam kampung kini mulai cerah setelah Bambang Krista memasyarakatkan cara beternak ayam kampung secara intensif. Usaha peternakan ayam kampung yang sebelumnya dilakukan secara tradisional mulai berubah ke cara beternak yang lebih modern seperti laiknya memelihara ayam bukan ras atau ayam ras.
Cara beternak ayam kampung modern itu memang membawa dampak besar. Lihat saja, kalau sebelumnya nilai ekonomis ayam kampung baru diperoleh setelah ayam berusia tiga bulan atau lebih, kini peternak hanya butuh waktu 45-60 hari untuk bisa panen.
Namun demikian, menurut Bambang, peternakan ayam kampung dalam skala besar masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, peternakan ayam kampung masih dikelola dalam skala menengah dan kecil. “Banyak yang beranggapan bisnis ayam kampung ini bisnis recehan,” ujar Bambang.
Padahal, melihat hasil yang diraih Bambang saat ini, sejatinya bisnis ayam kampung ini bisa lebih stabil dan punya masa depan yang cerah. Selain itu, beternak ayam kampung juga jauh lebih menguntungkan karena ayam ini lebih tahan penyakit dibandingkan dengan ayam broiler. Padahal, harga jual ayam kampung juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayam buras itu. Apalagi saat ini lamanya masa panen beternak ayam kampung sudah bisa diatasi.
Ayam kampung hasil penelitian Bambang ini memang terbilang super. Lihat saja, ayam kampung yang diternak Bambang itu punya daging selezat ayam kampung namun masa panen sesingkat ayam broiler. “Perkembangan yang cepat tentu lebih menghemat biaya produksi dan memperkecil risiko kematian,” terang Bambang.
Contoh sukses Bambang itu tentu juga membuat masyarakat semakin tertarik untuk ikut beternak ayam kampung. Bambang yang suka berbagi ilmu ini pun tak pelit menularkan cara beternak ayam kampung yang efisien. Itulah sebabnya, Bambang rutin mengadakan pelatihan beternak ayam kampung di Cibubur dan Bekasi.         
Tidak hanya itu ia juga kerap diundang sebagai pembicara mengenai ayam kampung ke berbagai daerah di Indonesia. Jam terbangnya yang tinggi membuat semua masalah berat peternak menjadi ringan. “Pelatihan tersebut sekaligus untuk memperkuat jaringan usaha,” ujar Bambang.
Jaringan usaha itu memang penting bagi pertumbuhan bisnis. Salah satu manfaat jaringan bisnis ini, di antara peternak bisa saling berkomunikasi untuk menjaga harga produk agar tidak jatuh.
Bagi Bambang, bisnis seperti ini harus dijaga agar tetap saling menguntungkan. Itulah sebabnya, “Saya juga sering memberikan bantuan pelayanan secara gratis di berbagai daerah,” imbuh Bambang. Dalam membantu para peternak baru, ia biasanya akan mewanti-wanti mengenai kondisi kandang. Menurut Bambang, kesiapan kandang sangat penting untuk meminimalisasi risiko kematian bibit ayam akibat virus. Kandang yang siap menampung bibit bisa dilihat dari sirkulasi udara dan lingkungan sekitar kandang yang steril.
Situasi kandang sebaiknya berada di wilayah yang tenang dan tidak dimasuki oleh sembarangan orang. “Karakter ayam itu sensitif dan gampang stres kalau ada perubahan di sekitarnya,” ujar Bambang.
Bambang sendiri yang punya jam terbang panjang di bidang peternakan ayam juga masih tetap hati-hati. Ia mengaku pernah merugi lantaran bibit yang dijualnya kepada seorang mitra mati mendadak. Setelah diteliti, ternyata itu akibat virus yang berbiak di kandang yang tidak steril. “Karena itu saya akan memastikan para klien saya siap sebelum pengiriman bibit,” jelas Bambang.
Kini, di sela-sela waktu luangnya, Bambang masih rajin menulis buku tentang beternak ayam kampung ini. Hingga saat ini ia telah menerbitkan tiga buku yang laris manis diserbu pembeli. Buku-buku itu mengenai tata cara beternak ayam kampung untuk peternak dari kalangan awam hingga untuk keperluan studi. “Buku tersebut saya tulis karena permintaan masyarakat yang tinggi,” ujar Bambang.

 

 

Kisah inspiratif Sukses beternak kambing

Tahu tidak serial kartun Shaun The Sheep yang tokoh utamanya seekor domba yang lucu?  Di situ, Shaun dan kawan-kawan domba cerdik, berhasil menghibur tuan mereka bahkan pemirsanya. Tapi bagaimana jika domba-domba itu membuat tuannya menjadi pengusaha sukses nan jutawan ?
Adalah seorang mahasiswa Fakultas Tehnik dari Universitas Indonesia yang menjadi jutawan muda gara-gara domba-domba itu. Andi Nata namanya. Dia digadang-gadangkan sebagai jutawan  dan pengusaha muda nan sukses. Umurnya baru kurang seperempat abad, tapi omset yang dikuasainya..wow..puluhan juta rupiah sebulan!
7 Januari lalu Andi barulah genap berusia 23 tahun.  Tapi usaha domba dimulainya pada 2008. Bermodalkan Rp8 juta, Andi memulai usahanya dengan membeli lima ekor kambing. Empat betina dan seekor jantan. Mulailah dia menjadi entrepreneur.
“Uang sebesar Rp8 juta itu saya boleh pinjam dari kerabat,” katanya.
Mengenang masa pahit yang mengawali kebangkitannya, Andi mulai bercerita kepada Antara News. “Semua berawal ketika ayah saya mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya pengobatan sekitar Rp30 juta,” kenang Andi dengan mata menerawang masa lalu.
 
Biaya pengobatan ayahnya yang mahal, membuat Andi memutar otaknya dengan keras untuk mendapatkan biaya pengobatan sang ayah.  Kala itu, Andi yang baru saja masuk kuliah, sudah  mencari penghasilan sendiri dengan memberikan kursus privat kepada murid-murid SMA.  Ia membantu mereka belajar  Fisika dan Matematika, dua mata pelajaran yang dia kuasai dengan baik. “Selama tiga bulan mengajar, saya pontang panting kurang tidur, saya menghasilkan sekitar Rp12 juta. Jelas itu tidak cukup untuk menutup biaya perawatan Ayah.”
Awalnya tak mulus Pribadi Andi yang supel membawanya berkenalan dengan seorang peternak kambing dan domba. Si pengusaha asal Jawa Tengah inilah yang mengajari Andi cara beternak domba dan kambing.
Dari peternak yang tak mau ia sebutkan namanya itulah, Andi mendapat insipirasi untuk menjadi pengusaha domba dan kambing. Lima ekor kambing yang Andi beli, 15 ekor anak kambing kemudian didapatkannya. “Saya hanya berusaha mengembangbiakan kambing-kambing saya,” katanya.
Awal usahanya tak berjalan mulus. Beberapa anak kambingnya mati.  Dia menduga, ini karena salah perawatan. Sisa kambing yang lain dia jual sebagai hewan kurban, menjelang Idul Adha.  Hasil penjualannya ia belikan lagi kambing dan domba yang lalu ia ternakkan. Kemudian, dia kembali jual. Begitu seterusnya, sampai Andi berhasil meraih omset yang kian waktu kian besar.
Demi meningkatkan usahanya, Andi bekerjasama dengan beberapa petani di Cirebon, Garut, Wonosobo dan beberapa wilayah lain di pulau Jawa. Pendekatan-pendekatan kekeluargaan ia coba untuk menumbuhkan kesalingkepercayaan antara dia dan mereka.  Itu penting, katanya. Apalagi beberapa kali dia rugi hingga jutaan rupiah akibat dibohongi sejumlah petani rekanannya.
“Saya sering datang ke tempat petani-petani itu. Saya bawakan martabak. Yaah, hitung-hitung 'sogokan kecil' untuk meningkatkan persaudaran,” kata Andi, lalu tawa terkekeh geli.
Terus belajar Jiwa muda yang menggebu dikelola dengan benar oleh Andi untuk dapat terus berusaha dan mengejar ketinggalan, baik dalam soal akademis maupun bisnis.
Sempat tertinggal dalam soal akademis, dia akhirnya mampu mengejar ketertinggalannya itu. Kini ia sudah hampir paripurna sebagai mahasiswa strata satu, bila berhasil merampungkan skripsinya.
Berhasil mengejar prestasi akademis, berhasil pula dalam berusaha.  Ia tak mau kalah dan pantang lagi merugi. Ilmu usaha terus ditimbanya.  Berbagai lokakarya, kursus dan kuliah singkat dia ikuti. Kemampuannya dalam melobi dan bergaul juga menjadi salah satu rahasia kesuksesannya. “Bagi saya, percuma bila seorang pengusaha hanya pandai dalam berinovasi. Pengusaha juga harus pandai bergaul dan menjalin relasi." Menurutnya, relasi dalam berusaha tak kalah penting dari tawaran inovasi. Tak peduli dengan atau dari siapa belajar, Andi menyerap apa pun ilmu di sekelilingnya. Dari mantan manajer restoran cepat saji, hingga seorang ibu penjual gulai yang memberinya ide lain.
Dari si ibu, Andi mendapat ilham usaha katering untuk aqiqah atau acara-acara yang menginginkan menu gulai atau sate, serta kambing atau domba guling. Kian makmur Di usia 23 tahun, sudah 20 orang karyawan bekerja padanya.  Ini ditambah empat rumah, satu mobil pikap, satu mobil pribadi, dan lebih dari tujuh unit motor. 
Setiap tahun omsetnya semakin meningkat. “Belajar dari kegagalan, jangan lalu putus asa. Belajar dan meningkatkan kemampuan diri itu penting demi mengembangkan usaha,” katanya.Kemampuan bisnisnya itu diakui banyak pihak. Beberapa perusahaan besar memberinya penghargaan, sebagai pengusaha muda sukses dan inspiratif.
“Saya belum puas dengan apa yang saya capai. Saya masih ingin terus mengembangkan usaha, bukan hanya untuk saya, tapi untuk menambahkan peluang kerja,” kata Andi yang ingin usahanya membawa berkah bagi banyak orang.

Kisah inspiratif Sukses beternak sapi

Berawal 2 ekor setahun henry sukses memiliki 162 ekor sapiHenry Surya Jaya bisa dibilang mewakili gairah anak muda yang sangat pandai dalam berbisnis sapi. Sebagai alumni pelatihan sapibagus angkatan ke 2, henry datang waktu usianya masih terbilang muda, 23 tahun.
Tapi semangat dan niatan untuk berbisnis sapi dengan banyak menimba ilmu tak pernah surut dari sosok muda yang satu ini. Berawal hanya dari 2 ekor sapi, dalam satu tahun henry sukses menggandakan sapinya hingga 160 ekor lebih. Sebelumnya henry juga sukses telah mengelola lebih dari 700 ekor domba.
Bahkan mengembangkan lini bisnisnya yang lain seperti pakan dan jual daging sapi untuk wilayah tegal dan sekitarnya.Bagaimana kisah sukses henry merintis bisnis sapinya? ikuti dalam perbincangan dengan sapibagus berikut ini:
Bisa Diceritakan ketertarikan ke dunia sapi?
Bicara ketertarikan sudah sejak saya masih kecil. Kakek saya adalah pencinta hewan dan gemar memelihara hewan apa saja mulai dari kuda, domba, ayam, burung, sapi, hingga serangga.
Beternak sudah menjadi hobby dari kecil. Mengapa memilih sapi, karena sapi adalah hewan yang sangat menyenangkan untuk dilihat, pemeliharaanya mudah dan bisa dijadikan bisnis yang menghasilkan banyak keuntungan dan manfaat.
Bagaimana Anda memulai bisnis sapi
Hobby dan keinginan saja tidak cukup untuk memulai bisnis ini. Dibutuhkan ketekunan dan keberanian untuk mengambil resiko karena kan sapi bukan barang murah. Sebelum saya memulai, saya membaca buku – buku tentang sapi sebanyak yang saya bisa, mungkin semua stock di Gramedia sudah habis saya beli.
 Kemudian saya mengikuti pelatihan yang pertama di Kampoeng Ternak dan setelah itu di SAPI BAGUS, tujuannya ya untuk mengenal pemain – pemain sapi senior yang tentunya punya banyak pengalaman, ilmu, dan juga jaringan di bisnis sapi ini.
Setelah saya menjalani itu semua, barulah saya memberanikan diri untuk mengeluarkan uang untuk membangun kandang, mencari tenaga ahli, dan memulai bisnis ini dari awal.
Kendala apa yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya? Banyak sekali kendalanya, mulai dari tahap pembelian bakalan, pemeliharaan, hingga penjualan, setiap tahap mempunyai tantangan tantangan sendiri. Dari mulai beli, karena kurangnya pengalaman saya dulu sering beli sapi kemahalan. Maka dari itu jualnya pun susah.
Kedua, saat pemeliharaan masih sering bingung apalagi di saat sapi sakit maupun ketika pakan tidak mencukupi. Belum lagi ketika saatnya jual, bingung mau dijual kemana. Cara mengatasinya adalah dengan bergaul dengan senior – senior yang sudah mempunyai pasar, seringlah main ke pasar hewan untuk tukar informasi.
Pada intinya bergaul dengan orang sebanyak mungkin dan jangan malu bertanya. Kemudian tentukan tujuan beternak anda, dengan kata lain jawablah pertanyaan ini “saya ingin jadi peternak sapi yang bagaimana?” peternak qurbankah? traderkah? penggemukankan? atau pembibitan sapi?
Pada awal mulai, saya mencoba semuanya, sedangkan yang seharusnya saya lakukan adalah menentukan tujuan beternak yang jelas untuk ditekuni Dengan begitu kita akan lebih jelas langkah kedepanya dan dengan sendirinya akan bisa lebih fokus dan sukses. semoga bisa membantu
Apa yang anda miliki sekarang dan bagaimana mencapai sukses tersebut?
Dari kepemilikan 2 ekor sapi di akhir 2014, sekarang kandang saya memiliki kapasitas 160 ekor. Selain itu, saya telah berhasil mengembangkan pakan konsentrat sapi yang berkualitas dan sudah teruji manfaatnya.
Apa kesan-kesan Anda terhadap komunitas dan pelatihan Sapibagus?
Komunitas dan Pelatihan Sapibagus sangat bagus untuk memperluas jaringan, memperbanyak koneksi dan mendapatkan info terkini seputar kebijakan pemerintah dan trend. Selain sharing knowledge, komunitas ini juga bisa digunakan untuk saling membantu sesama member, misalnya untuk bantu menjual atau pun untuk berbagi pengalaman.
Apa tips dan saran anda untuk peternak pemula agar bisa action dan sukses?
“Just Do It!” seperti slogan merek sepatu Nike. Semakin cepat anda bergerak semakin cepat anda akan mempelajari bisnis ini dari a sampai z. Bisnis ini bukan ilmu kelihatan, melainkan, harus ditekuni dan dipraktekan kalau tidak feeling anda tidak akan jadi.
Selain 3 jenis hewan ternak diatas, masih banyak lagi hewan ternak yang belum disebutkan, namun dari 3  jenis ternak tersebut sudah dapat memberikan gambaran kepada anda untuk menjadi seorang peternak yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 LANGKAH MENUJU SUKSES

Bersunguh-Sungguh dan Kerja Keras

Thomas Alfa Edison