cara menjadi Dosen
Dosen
Salah satu jalan menuju sukses adalah menjadi seorang dosen. Kamu bisa
mengajar di berbagai universitas yang ada di Indonesia dan mengajar jurusan
sesuai dengan minatmu. Profesi yang satu ini pastinya menjadi salah satu
profesi mengajar yang bisa kamu pilih dan ada beberapa syarat jadi dosen yang
harus kamu persiapkan.
Untuk mewujudkan impianmu menjadi seorang
dosen bisa kamu dapatkan dengan cara yang mudah saat ini. Selain tekad yang
kuat, kamu juga harus melengkapi beberapa persyaratan agar bisa lebih cepat
menjadi dosen.
1. Saat Masih di Jenjang S1, Kuliahlah dengan
Benar Agar Bisa Lulus Cepat
Lulus dengan cepat memang bukan syarat utama.
Tetapi jika kamu bisa segera lulus dari jenjang strata satu maka akan semakin
cepat pula kamu untuk meneruskan jenjang pendidikan yang berikutnya. Karena
memang, untuk menjadi seorang dosen minimal harus bergelar master.
Semakin cepat kamu lulus juga akan lebih
membuat kamu menjadi dosen muda dengan cepat. Lulus dengan cepat juga akan
memberikan nilai IPK yang lebih bagus lagi. Sehingga pastinya juga akan menjadi
satu pertimbangan tersendiri dengan predikat lulus cepat.
Apalagi syarat menjadi seorang dosen juga
memiliki syarat minimal umur. Paling tidak maksimal berusia 35 tahun saat
mendaftar. Dengan lulus cepat maka kamu bisa segera mendaftarkan diri lebih
cepat lagi.
2. Coba Kesempatan Menjadi Asisten Dosen
Untuk Membiasakan Diri Mengajar
Jika ada kesempatan yang diberikan oleh dosen
kamu untuk menjadi asisten dosen jangan pikir-pikir lagi, langsung ambil saja
kesempatan tersebut. Dengan menjadi asisten dosen kamu pun bisa tahu apa saja tugas
dosen itu. Tahu sedikit tentang dunia dosen pastinya akan membuatmu terbiasa
saat benar-benar terjun menjadi dosen sungguhan.
Menjadi asisten dosen juga bisa menjadi salah
satu portofolio kamu saat melamar menjadi dosen. Selain itu, saat mencoba menjadi
asisten dosen kamu juga akan terbiasa dengan suasana mengajar di depan
mahasiswa. Dengan cara ini mental kamu pun akan lebih terbiasa dan saat
mengajar sungguhan kamu pun akan terbiasa.
3. Jika Tidak Menjadi Asisten Dosen, Coba
Saja Menjadi Guru Les
Dosen pasti berkaitan juga dengan dunia ajar.
Malah jika menjadi dosen yang akan kamu hadapi adalah mahasiswa yang pasti
berpikir lebih kritis. Selain itu, menjadi dosen juga menghadapi anak didik
yang sudah berumur yang pastinya akan lebih menguras mental jika dibandingkan
mengajar anak didik dari SD hingga SMA.
Oleh karena itu, mental merupakan satu hal
yang harus kamu persiapkan. Dengan mencoba menjadi guru les akan membantu kamu
agar terbiasa dengan dunia ajar sehingga kamu tidak akan kaget lagi saat mengajar.
Kamu pun juga bisa menemukan metode-metode ajar yang paling tepat dan sesuai
dengan yang gaya kamu.
4. Bersiap Untuk Kuliah S2, sebab Minimal
Menjadi Dosen Harus Bergelar Magister
Saat ini syarat utama jika kamu ingin menjadi
seorang dosen adalah harus bergelar Magister di bidang yang akan kamu dalami.
Oleh karena itu, jika kamu ingin menjadi seorang dosen pasti harus meneruskan
kuliah S2 terlebih dahulu untuk mendapatkan gelar Magister. Dengan modal ijazah
magister pastinya akan membuat jalanmu menjadi dosen lebih mulus lagi.
Namun untuk beberapa perguruan tinggi ada
yang bisa menerima dosen dengan gelar S1. Tetapi setelah itu kamu harus tetap
melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar magister. Syarat ini bertujuan agar
kwalitas dari pendidikan Perguruan Tinggi Indonesia lebih bagus lagi.
Jika kamu ingin mendapatkan gelar magister
kamu juga bisa mencari beasiswa dari beberapa universitas. Bahkan, pada saat
kamu sudah mulai mengajar atau masih menjadi calon dosen pun kamu bisa
mendaftarkan beasiswa untuk melanjutkan gelar magister. Dengan cara ini kamu
pun bisa mendapatkan profesi impianmu lebih cepat.
5. memiliki jurnal nasional maupun internasional
Nah, jika kamu ingin mengajar di Perguruan
Tinggi Negeri, salah satu syarat yang diberikan adalah kamu harus memiliki satu
buah artikel yang sudah dimuat di jurnal ilmiah. Jadi, kamu sudah bisa
bersiap-siap untuk membuat artikel jurnalmu. Sehingga pada saat dibutuhkan kamu
sudah memiliki bekal yang pas
Kisah inspiratif dosen
Siapa yang tak kenal Profesor Rhenald Kasali Ph.d, Profesor Azyumardi
Azra Ph.D dan Profesor Yohannes Surya Ph.D? Mereka telah terakui secara
nasional, dan bahkan juga internasional, sebagai para pakar di bidang
masing-masing. Siapa sangka bahwa ketiganya adalah orang-orang yang dulunya
berasal dari kalangan tak mampu, miskin dan serba terbatas. Mereka beritiga
mengaku pernah merasakan setiap hari makan nasi hanya ditemani garam, karena
sulitnya hidup keluarga mereka.
Seorang Rhenald, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, harus
melalui masa kecil dalam kondisi perekonomian keluarga sangat terbatas. Ia
terbiasa berangkat sekolah sejak pukul setengah lima pagi untuk berlari-lari
mengejar bis karena jarak rumah dan sekolah yang lumayan jauh. Ia juga pernah
merasakan tak pernah bisa memakai sekolah baru, karena ibunya hanya sanggup
membelikannya sepatu bekas. Ia juga pernah mengalami pahitnya tinggal kelas
saat kelas lima SD. Namun semuanya tak mengurungkan niatnya yang sangat besar
untuk terus sekolah. Hingga Ia mampu menamatkan SMA-nya. Berbekal uang sepuluh
ribu rupiah, ia nekat membeli formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi. Saat
diterima di UI, ia harus dihadapkan pada kesulitan bayar biaya kuliah. Dan ia
harus bekerja keras untuk bisa membiayai sendiri kuliahnya serta berburu
beasiswa. Minatnya tak berhenti saat ia mampu meraih gelar sarjananya. Ia
kemudian berburu berbagai beasiswa untuk bisa meneruskan kuliah S2 dan S3 di
Amerika Serikat. Dan tentu saja beragam kisah dan pengalaman unik mengiringi
perjuangannya hingga ia mampu meraih gelar doktor di University of Illinois,
Amerika Serikat.
Tak kalah seru kisah hidup Profesor Azyumardi Azra, mantan Rektor
Universitas Islam Negeri (dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Azyumardi
yang besar di Padang ini, berayahkan seorang tukang kayu dan batu, dengan ibu
seorang guru agama. Ia dekat dengan segala keterbatasan ekonomi. Namun visi dan
misi yang besar terhadap pendidikan dari orang tuanya, mendorong Ia turut
menggandrungi dunia sekolah. Ia bisa membaca sebelum sekolah, karena gemar
memelototi nama bis yang lewat di jalan raya dekat rumahnya. Saat SMP dan SMA,
ia harus rela membawa bekal lauk pauk untuk makan seminggu dari rumah ke kos
karena keterbatasan uang dari orang tuanya. Ia juga mau bekerja serabutan di
bengkel mobil, hingga jadi tukang jahit di sela-sela sekolahnya, untuk menambah
uang saku. Dan kerja kerasnya terus berlanjut saat ia harus membiayai sendiri
kuliahnya di Jakarta. Lulus menggondol ijazah S1, ia langsung memantapkan niat
untuk melanjutkan ke S2 dan S3. Serupa seperti Rhenald, Ia rajin berburu
beasiswa ke luar negeri dan sponsor dalam negeri untuk mendukung upayanya.
Perjuangan keras dan berbagai kisah unik pun mengiringi perjalanan hidupnya
saat ia diterima kuliah di Columbia University Amerika Serikat dan sekaligus
harus menghidupi istrinya hingga meraih gelar doktor.
Dan beratnya hidup untuk bisa sekolah setinggi mungkin untuk keluar dari
kemiskinan, juga dipikul oleh Profesor Yohannes Surya. Rektor Universitas
Multimedia Nusantara sekaligus pakar ilmu fisika ini, sejak kecil sudah harus
terbiasa bangun pukul 3 pagi untuk membantu sang ibu membuat kue dagangan.
Ketertarikannya yang besar pada fisika, mata pelajaran momok bagi kebanyakan
anak sekolah, justru menjadi kunci keberhasilannya kemudian. Saat lulus SMA, ia
harus memutar otak untuk menyiasati biaya kuliahnya. Ia bersaing dengan banyak
orang untuk masuk perguruan tinggi melalui PMDK, dan ia memilih jurusan yang
paling sedikit diminati yaitu fisika. Klop sudah, perhitungannya benar dan ia
melenggang masuk Universitas Indonesia. Tinggal kemudian ia harus berpikir
keras untuk mencari uang untuk biaya kuliah. Dan kegemarannya pada fisika
lagi-lagi menolongnya. Ia memanfaatkan kepintarannya untuk memberi les privat
fisika pada anak-anak SMA serta membuat buku tentang fisika, di samping berburu
beasiswa. Dan seperti dua koleganya di atas, penggagas dan ketua tim Olimpiade
Fisika Indonesia ini pun juga sudah mewacanakan untuk bisa melanjutkan kuliah
hingga S3 sejak jauh-jauh hari. Ia memiliki moto hidup Mestakung, atau Semesta
Mendukung. Dan Mestakung inilah yang membuatnya mantap membuat paspor meski
belum mendapatkan beasiswa di luar negeri. Apa sebenarnya konsep Mestakung itu?
Dan apa saja kisah-kisah unik yang menyertainya saat kuliah di Physics Dept. College
of William and Mary, Amerika Serikat dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan
namun mampu meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude?
Banyak jalan menuju Roma, hal ini lah yang diyakini para nara sumber
Kick Andy kali ini dalam mengejar mimpinya. Misalnya kisah Winarno, seorang
anak yang lahir dari keluarga miskin. Ayahnya seorang informan polisi yang
tidak lulus SD dan ibunya seorang tukang pijat yang buta huruf.
Masa sekolah dan kuliah Winarno identik dengan perjuangan keras, dari
urusan biaya, fasilitas untuk bersekolah, hingga transfortasi yang cukup jauh.
Satu prinsip kuat yang ia yakini saat itu adalah, kalau pintar pasti bisa
berhasil. Maka ia pun memompa semangatnya untuk bisa meraih nilai tertinggi.
Untuk urusan kuliah, ia menemukan taktik untuk bisa memperoleh sekolah gratis.
Dari seluruh perjuangannya, Winarno kini sudah meraih gelar professor
untuk bidang ilmu dan teknologi pangan. Di usianya yang sudah berkepala tujuh,
ia masih aktif sebagai Rektor di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.
Kisah Basuki asal Sragen, lain lagi. Sejak kecil ia disibukan dengan
urusan membantu perekonomian keluarga dari mulai jualan kantong plastik, semir
sepatu, atau ngojek paying saat hujan. Kala itu keluarga mereka hijrah ke
Ibukota untuk meningkatkan taraf hidup dan malangnya, tidak berhasil. PHK yang
menimpa ayahnya, kemudian memaksa keluarga ini kembali ke kota asal mereka,
Sragen.
Menjelang masa kuliah, Basuki mulai merambah usaha baru, yakni jadi
loper koran. Jadi masa kuliah pun ia jalani sambil berjualan koran dan di waktu
luang jadi pedagang asongan.
Pada Januari 2010 lalu, Basuki mendapatkan pengukuhan gelar Doktor Ilmu
Komunikasi dari Universitas Indonesia. Dan kini tercatat sebagai dosen di
Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta.
Dari Yogakarta, ada kisah menarik milik Purwadi. Putra pasangan Ridjan
dan Yatinem ini harus bekerja keras
sejak kecil agar bisa meneruskan sekolahnya hingga ke bangku kuliah. Ayahnya
seorang buruh tani dan ibunya yang penjual bakul sayur, tak memiliki kemampuan
ekonomi yang cukup untuk membiayainya.
Alhasil Purwadi harus pintar-pintar mencari cara. Masa kuliah ia
berjualan kantung gandum, menjual majalah bekas, hingga memberi les gamelan.
Untuk mengirit biaya buku dan makanan, ia memiliki trik trik khusus semasa
kuliah. Perjuangan yang tak kenal lelah telah mengantar Purwadi meraih gelar
Doktor Filsafat dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Anda mengenal Saldi Isra? Seorang Ahli Hukum Tata Negara yang cukup
menonjol di tanah air. Di usianya yang ke 42 tahun, ia sudah menyandang gelar
Profesor Doktor. Tahukah anda Saldi Isra lahir dari keluarga seperti apa?
“Orang tua saya petani yang buta hurup, dan
masa sekolah saya harus dilakukan sambil membantu orang tua membajak sawah,”
katanya saat tampil di Kick Andy.
Kisah yang penuh spirit juga hadir dari seorang dokter bedah syaraf
kaliber dunia, Eka Julianta. Dokter yang telah berhasi melakukan banyak operasi
otak dan batang otak ini, kini sering mendapat undangan untuk melakukan
presentasi di berbagai Fakultas kedokteran dan symposium di berbagai Negara
baik Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Tapi tahukah anda, bahwa perjuangan Eka, untuk mengejar mimpi dan
mewujudkan cita-citanya sebagai dokter, dimulai dengan membantu ibunya menumbuk
singkong getuk, dan menjajakannya di sekolah.
bersambung.......................
Komentar
Posting Komentar